Miindung ka Waktu,
Mibapa ka Zaman

Buku VS Sosmedism

Membaca dan memahami buku merupakan rukun utama seseorang masuk ke dalam dunia pengetahuan. Siapapun yang berminat menjadi pencari pengetahuan mesti memenuhi rukun ini. Buku mesti diakrabi setiap saat, karena hanya di dalam buku tersedia pengetahuan yang lengkap. betul saat ini telah tersedia saluran pengetahuan di luar buku. Media sosial, salah satunya. Namun, pengetahuan yang utuh tidak terdapat di media sosial. Hanya ada di buku. Media sosial hanya menyajikan penggalan-penggalan pengetahuan yang tidak runtut dan (terkadang) asal tayang. Bahkan, media sosial  menjadi sarang penyesatan informasi pengetahuan.

Sekalipun buku juga memiliki keterbatasan dalam hal kelengkapan informasi pengetahuan, akan tetapi saat ini hanya buku yang masih dapat diandalkan. Itu pun buku yang ditulis secara serius dan apik. Sebab, ada juga buku yang ditulis secara serampangan, asal tuntas. Mungkin, salah satunya karena kejar proyek dan bayaran dari penerbit yang memesannya.

Kecenderungan meninggalkan buku mewabah di kalangan para pencari pengetahuan, baik pelajar, mahasiswa, maupun dosen. Pencarian pengetahuan yang instan melalui mesin-mesin pencari di dunia maya menjadi trendy. Sosmedism, saya menyebutnya, merupakan mazhab dan style yang menguasai secara dominan kalangan ilmuwan saat ini (walaupun tidak semuanya terwabahi). Sekalipun lahir dari kecenderungan perilaku akademik menyimpang, sosmedism saat ini menjadi mazhab pengetahuan.

Sosmedisme yang saya maksud adalah aliran pengetahuan yang mendasarkan pengetahuan pada informasi-informasi di media sosial. Pengetahuan ini disebarkan lagi melalui jaringan sosial media, sehingga menjadi pengetahuan berantai. Pengetahuan-pengetahuan yang muncul tidak mengalami uji validitas. Kebenarannya tidak didasarkan pada tahapan uji pengetahuan, melainkan didasarkan pada kekuatan ketersebaran. Ukuran validitas ilmiahnya tidak berdasar pada uji akademik, melainkan didasarkan pada opini publik. Semakin banyak suatu informasi diopinikan oleh publik, semakin kuat kebenarannya. Namun, kebenaran yang bukan kebenaran objektif melainkan kebenaran kicauan. Semakin banyak suatu informasi dikicaukan di media sosial maka semakin kuat kebenarannya. Semakin kecil suatu informasi dikicaukan di media sosial semakin lemah kebenarannya.

 

Kolom

Yang Terhormat para Calon Kepala Daerah!

Ketegangan psiokologis politik masyarakat Indonesia sedang kumat saat ini, seiring dengan perhelatan Pilkada serentak 2018 yang tinggal menghitung hari. Ketegangan psikologis ini semakin bertambah, karena dalam beberapa bulan ke depan, kurang lebih dua bulanan lagi, akan muncul nama-nama calon Presiden yang semakin membuat cenat-cenut kepala masyarakat Indonesia.

Selengkapnya...

Gedung Pusat Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Jl. AH Nasution No. 105 Bandung
Jawa Barat, Indonesia
Telp. (022) 6370 0715

email: lib@uinsgd.ac.id

Media Sosial


BCMath lib not installed. RSA encryption unavailable