Miindung ka Waktu,
Mibapa ka Zaman

Islam Membenci Amerika?

Meluruskan Kekeliruan

 

Kandidat presiden terkuat dari Partai Republik, Donald Trump, kukuh pada pandangannya bahwa Islam merupakan salah satu masalah serius bagi Amerika. Dalam wawancara yang ditayangkan oleh CNN, dirilis juga oleh NBC News, dia menyebutkan, I think Islam hates us. Sementara itu, dalam sesi debat kandidat Presiden Partai Republik yang diadakan pada hari Kamis (10 Maret 2016), bakal calon Presiden Marco Rubio dari sesama partainya, menyerang pernyataan Trump bahwa seorang calon presiden tidak patut mengatakan apa saja yang diinginkannya tanpa menghitung konsekuensi yang timbul, baik internal maupun eksternal. Rubio menuding Trump hanya berlelucon dalam prosesi pemilihan Presiden 2016 ini, tidak serius.

Donald Trump terus konsisten untuk menganggap bahwa Islam itu problematika bagi Amerika. Sejak Desember 2015 dia kukuh pada pendiriannya bahwa orang-orang Muslim merupakan ancaman berbahaya bagi Amerika, sehingga harus dihentikan sementara menerima kedatangan mereka, sama berbahayanya dengan para pendatang dari Meksiko.

Trump yakin bahwa sumber kebencian itu ada dalam Islam. Ketika dikonfirmasi oleh Anderson Cooper (Presenter CNN) kepadanya apakah Islamnya yang mengandung kebencian, Trump menganjurkan agar media mengorek lebih jauh fakta kebencian tersebut (You're gonna have to figure that out, OK?).

Dalam wawancara tersebut Trump mengajak agar waspada pada orang-orang yang datang ke Amerika dengan latar belakang Islam. Orang-orang Muslim yang datang ke Amerika, dalam pandangan Trump, berbekal modal ideologi kebencian. Bahkan, ia tidak menggubris anjuran Juru Bicaranya, Katrina Pierson, yang meminta agar Trump menggunakan istilah radikalisme Islam, tidak hanya nama Islam.

Pandangan Trump bertolak belakang dengan pemikiran Graham E. Fuller, mantan Wakil Ketua National Intellegence Council CIA. Dalam bukunya, A World Without Islam, Fuller menyebutkan, kebencian orang Islam pada Barat adalah “kebencian sejarah”. Kebencian Timur pada Barat, kata Fuller, bukan dimulai sejak 9/11, melainkan telah “diakari” oleh perjalanan sejarah kebencian yang amat panjang. Fuller menyebutkan, akar sejarah kebencian Timur pada Barat membentang panjang hingga masa Kekaisaran Bizantium di Timur dan Romawi di Barat, bahkan ke masa Iskandar Agung  yang pertama kali melakukan penyerbuan ke Asia pada 334 Sebelum Masehi.

Akar kebencian Timur kemudian merambat dan semakin subur ketika bertemu dengan ambisi invasi imprialisme Barat. Adalah sama, ambisi invasi Barat ke Timur bukan ambisi baru seumur jagung melainkan ambisi berkelanjutan yang telah “mengutuh” dan “menyejarah” sejak ratusan tahun yang lalu.

Islam bukan kekuatan negatif dalam sejarah umat manusia yang menjadi biangkerok kekusutan dan keruwetan global. Sebab, dua perang dunia yang mengakibatkan kengerian global tidak dilandasi oleh agama, melainkan oleh ambisi kekuasaan dan kerakusan ekonomi. Bahkan, kekerasan sekular dalam bentuk pembantaian umat manusia yang mendominasi sejarah Barat sama sekali tidak terkait dengan agama. Ekstrimisme sekularlah yang melatarinya, semacam fasisme, nazisme, dan komunisme.

Tentu sekadar tutup mata, kalau kita mengatakan bahwa Islam tidak memiliki peran sama sekali dalam mewarnai dinamika kebencian Timur pada Barat. Toh, Islam merupakan ideologi sangat mapan, yang berpengaruh besar bagi masyarakat Timur Tengah. Akan tetapi dalam hal pertikaian Timur-Barat Islam digunakan sebagai “bendera” dan modal pertikaian, sehingga dapat dikatakan hanya unsur kebetulan Islam menjadi agama anutan orang Timur Tengah. Sekalipun tidak beragama Islam orang Timur Tengah akan tetap menaruh kebencian pada Barat, sebab kebencian tersebut merupakan “kebencian sejarah” yang dipoles oleh “kebencian akidah.”

Amerika di bawah Obama saat ini telah tepat mengambil pendekatan menangani kebencian dan radikalisme Timur. Pola komunikasi bermartabat Obama, yang mulai memahami perasaan-perasaan Timur, menggantikan pamer kekuatan dan keangkuhan. Pendekatan dan peta jalan ini tampaknya tidak akan diambil oleh Trump, apabila kita menilik sejumlah sikap dan opininya terkait Islam. Justeru Trump mengembangkan ideologi “mereka membenci kita (I think Islam hates us)”, yang sangat membahayakan Amerika dan mengancam masa depan harmonisasi global.

Ketika Obama naik, banyak umat Islam merasa berbesar hati. Ada harapan perubahan nyata sikap Amerika pada Islam, sekalipun masih tetap dibayang-bayangi oleh pesimistis, karena Amerika masih memperluas jangakauan solusi kemiliteran bagi penanganan masalah politik, ekonomi, dan budaya di kawasan Timur Tengah. Pesimistis itu semakin kuat dan berubah menjadi kecemasan saat ini akibat opini calon terkuat Presiden Partai Republik, Donald Trump, yang mengusung zero toleransi terhadap Islam. Dan dipastikan semakin gencar opini tersebut terlontar maka semakin bangkit pula kebencian Timur. Sikap dan opini itu bagaikan pupuk penyubur bagi lahirnya generasi-generasi radikal baru.

 

 

Kolom

Yang Terhormat para Calon Kepala Daerah!

Ketegangan psiokologis politik masyarakat Indonesia sedang kumat saat ini, seiring dengan perhelatan Pilkada serentak 2018 yang tinggal menghitung hari. Ketegangan psikologis ini semakin bertambah, karena dalam beberapa bulan ke depan, kurang lebih dua bulanan lagi, akan muncul nama-nama calon Presiden yang semakin membuat cenat-cenut kepala masyarakat Indonesia.

Selengkapnya...

Gedung Pusat Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Jl. AH Nasution No. 105 Bandung
Jawa Barat, Indonesia
Telp. (022) 6370 0715

email: lib@uinsgd.ac.id

BCMath lib not installed. RSA encryption unavailable