MODERASI BERAGAMA

Oleh:

Wahyudin Darmalaksana

 

Penguatan moderasi beragama pendidikan tinggi menjadi tuntutan dunia global. Apatah lagi pendidikan tinggi keagamaan atau pendidikan tinggi yang di dalamnya memiliki program studi agama. Bahkan, moderasi beragama menjadi tuntutan bagi pendidikan tinggi umum antara lain dengan cara memasukkan materi keagamaan ke dalam kurikulum untuk menghasilkan perilaku sivitas akademik yang moderat. Pendidikan tinggi harus memiliki konsep dan aksi terkait moderasi beragama.

Mengapa Pendidikan tinggi? Saat ini semua pihak menaruh harapan besar terhadap pendidikan tinggi dapat memberikan formula untuk meningkatkan kesejahteraan negara, termasuk menjamin kehidupan beragama yang moderat.

Agama dipahami memberikan pengaruh besar dalam berbagai sektor kehidupan. Memang pada awal abad 20 agama pernah diramalkan akan menemukan kematian seiring dengan kemajuan sains dan teknologi. Ketika itu peran agama diramalkan akan tergeser oleh kekuatan sains dan teknologi. Namun, ramalan tersebut meleset atau tidak terbukti. Kenyataannya, agama berperan sangat sentral di dalam kehidupan manusia di abad 21 sekarang ini. Dewasa ini, agama tengah memasuki ruang kehidupan meliputi politik, ekonomi, pendidikan, industri, lingkungan dan sebagainya. Perlu ditegaskan di sini bahwa agama tidak akan pernah mati, bahkan sebaliknya ia menjadi peran utama.

Masalahnya, terkadang ekspresi agama diperankan oleh pemeluknya secara radikal. Agama dipahami secara harfiah atau tekstual. Akibatnya, agama diekspresikan sesuai teks apa adanya tanpa dilakukan interpretasi atau tafsir secara holistik. Secara ekstrim, pemahaman agama yang radikal ketika dibawa ke ruang politik maka ia dipastikan akan mengabaikan nilai-nilai inklusif yang egaliter dan demokratis. Dengan begitu, perbenturan menjadi tak terhindarkan dengan aliran politik lain yang berbeda. Tentu saja implikasinya adalah kehancuran kebalikan dari kedamaian.

Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi penting. Pemeluk agama harus melakukan interpretasi terhadap teks suci. Setiap teks dipastikan memiliki konteks yang tidak serta merta dipahami secara leterlek berdasarkan teks yang harfiah. Penggalian terhadap teks suci dengan interpretasi yang holistik akan melahirkan pemaknaan yang universal sesuai dengan konteks. Interpretasi akan menghasilkan konsep-konsep yang operasional untuk diaktualisasikan dalam konteks kehidupan. Sejumlah pemuka agama telah sering mengumandangkan arahan moderasi dalam beragama. Sudah banyak rujukan tentang konsep-konsep moderasi beragama beserta aktualisasinya. Penguatannya kemudian adalah di tataran aktualisasi atau implementasi.

Pendidikan tinggi berperan menyiapkan seperangkap pengetahuan praktis tentang moderasi beragam di dalam kurikulum. Setiap akademisi memiliki acuan nilai yang eksplisit. Memang agama merupakan ajaran tentang iman. Namun, iman dalam penjelasan akademik ia menjadi nilai. Pendidikan tinggi memiliki peran menanamkan nilai, mengeksplisitkan nilai, dan mengaktualisasikan nilai. Dengan begitu, akademisi akan dijaga, akan dilindungi oleh nilai, dan berbagai berperilaku berbasis nilai yang tertanam tadi. Pada gilirannya, nilai akan berperan menjadi subjek yang menjaga, mengatur, dan mengendalikan segala perilaku. Penguatan nilai dapat berbentuk kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pendidikan tinggi. Bagi pendidikan tinggi yang memiliki program studi agama, maka penguatan nilai-nilai agama menjadi inti kurikulum. Pendidikan tinggi keagamaan memastikan kurikulum nilai-nilai agama sebagai peran utama.

Tidak lain praktik nilai moderasi adalah kolaborasi yaitu upaya menghubungkan antar-unsur yang berbeda atau mencari titik temu di antara unsur-unsur yang berbeda. Kolaborasi berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Tujuan kolaborasi adalah untuk menjawab permasalahan baru, dengan cara baru, dan untuk menghasilkan jawaban baru. Moderasi beragama menghendaki kolaborasi internal dan eksternal pemeluk agama untuk menjawab berbagai tantangan dunia. Sehingga ditemukan cara-cara baru dan sekaligus jawaban baru dalam mengatasi berbagai permasalahan baru.

Pendidikan tinggi keagamaan Islam sangat menekankan paham Islam moderat. Dia terdiri atas kurikulum tentang nilai-nilai Islam yang eksplisit. Sekaligus pula dia mengejawantah dalam praktik. Suatu praktik dengan perilaku yang inklusif, egaliter, dan demokratis. Perilaku untuk kesiapan kolaborasi dalam memastikan kemajuan negara, bangsa, dan dunia global.  

 

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin Uiniversitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

WRITING RESOURCES CENTER

Oleh:

Wahyudin Darmalaksana

 

Hari ni banyak lembaga pendidikan mendirikan pusat penulisan yang memberikan bantuan layanan konsultasi kepada akademisi untuk perbaikan berbagai karya tulis. Tujuan utama dari setiap pusat penulisan adalah membantu penulis untuk belajar. Layanan dapat mencakup pendampingan penulisan dengan tujuan khusus, struktur, fungsi penulisan, dan lain-lain. Format dapat mencakup bimbingan pribadi, bimbingan kelompok, dan pengaturan konferensi. Beberapa layanan meliputi kelas reguler, perjanjian bertemu, dan layanan mingguan. Pusat penulisan umumnya mengandalkan pendekatan non-korektif untuk membangun karya tulis yang lebih lengkap tentang seberapa baik sebuah tulisan selaras dengan tujuan penulis. Tujuannya adalah untuk membantu seorang penulis belajar mengatasi berbagai urgensi yang mungkin mereka hadapi dengan kesadaran bahwa tulisan selalu ditujukan kepada audiens yang spesifik.

Pusat penulisan biasanya menawarkan pertemuan individual di mana tutor menawarkan umpan balik pada selembar tulisan. Adapun fungsi utama seorang tutor adalah untuk membahas bagaimana karya tulis itu dapat direvisi. Namun, tutor biasanya tidak mengoreksi atau mengedit karya penulis. Sebaliknya, tutor memfasilitasi upaya penulis untuk merevisi karyanya sendiri melalui komunikasi dengan penulis lain tentang topik yang dibahas, membahas prinsip dan proses penulisan, dan membantu penulis dalam mengidentifikasi pola kesalahan tata bahasa dalam tulisannya.

Secara historis, pusat-pusat penulisan di universitas-universitas mulai muncul dalam bentuk "laboratorium menulis" pada awal abad ke-20. Laboratorium penulisan disebut-sebut sebagai model pertama. Model ini memungkinkan penulis untuk menyusun bersama fasilitator yang hadir, dapat membantu bagian setiap revisi atau pertanyaan yang mungkin penulis miliki. Namun, seiring dengan meningkatnya ukuran kelas dan universitas, pusat penulisan mulai berkembang sebagai lembaga universitas, yang sering dianggap sebagai layanan pengeditan bagi akademisi. Beberapa institusi juga menawarkan lab penulisan online, yang pada umumnya mencoba mengikuti model bimbingan menulis di lingkungan online. Lingkungan ini dinilai sebagai langkah menuju model baru pusat penulisan, model yang dikenal sebagai pusat multiliterasi. Lingkungan lain yang bisa masuk dalam kategori ini adalah ruang fisik yang dikenal sebagai studio digital.

Meskipun beberapa lembaga tidak memiliki pusat penulisan, sejumlah stakeholdes menawarkan dukungan serupa melalui entitas yang memiliki cakupan yang lebih luas. Ini biasanya disebut unit keterampilan akademik atau kelompok pengembangan pembelajaran. Pusat penulisan dapat menjadi bagian dari departemen studi penulisan atau berdiri sendiri. Sebuah gerakan baru-baru ini di pusat-pusat penulisan berperan untuk menyediakan layanan bagi komunitas non-akademik. Layanan semacam itu mencakup respons bagi para penulis di luar sekolah, dan konferensi tentang beragam topik. Pusat penulisan seperti itu sering diidentifikasi sebagai pusat penulisan komunitas.

Pusat-pusat penulisan tidak secara eksklusif merupakan fenomena pasca-sekolah menengah. Beberapa sekolah menengah telah berhasil menciptakan pusat penulisan yang mirip dengan model dalam pendidikan tinggi.

Dalam banyak kasus, direktur pusat penulisan atau pengelola program penulisan bertanggung jawab untuk melakukan penilaian pusat menulis, dan harus mengomunikasikan hasil kegiatan kepada administrasi akademik dan berbagai pemangku kepentingan. Penilaian dipandang bermanfaat bagi pusat penulisan karena menantang mereka untuk menganggap perilaku profesional dan etis yang penting bukan hanya untuk pusat penulisan tetapi untuk semua pendidikan tinggi.

Hari ini pusat-pusat penulisan telah menyebar di wilayah dunia. Terkait hal ini International Writing Centers Association (IWCA) berkomitmen untuk mendukung pusat penulisan dari seluruh dunia, dengan asosiasi regional saat ini di Eropa dan mengusulkan asosiasi di Timur Tengah, Afrika Selatan, dan Timur Jauh. Pusat penulisan telah menjadi kebutuhan Pendidikan tinggi global.

Penulis yang dilayani oleh pusat penulisan ini dapat bervariasi tergantung pada pengaturan. Pusat penulisan universitas dapat melayani dosen, peneliti, dan mahasiswa. Suatu departemen dapat memilih untuk memiliki pusat penulisan sendiri untuk siswa di jurusan atau program studi. Pusat menulis community college memiliki program yang melayani siswa terdaftar, siswa bimbingan, atau anggota dari komunitas. Pusat penulisan lazim memiliki konsultan bergantung berupa konsultan sejawat atau konsultan profesional. Jika pusat penulisan menawarkan konferensi atau sesi bimbingan belajar kelompok, maka konsultan atau akademisi yang berpengalaman, atau lulusan dapat melayani dalam kapasitas fasilitator resmi atau tidak resmi. Dapat pula ditunjuk wali kelas untuk kelas menulis.

Sivitas akademisi sering memandang pusat penulisan sebagai tempat untuk perbaikan. Pusat penulisan atau writing resources center dapat pula disebut sekolah menulis atau kelas menulis sebagai ruang untuk berbagi kebaikan sebagaimana diinisiasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Penulis adalah Kepala Sekolah Menulis UIN SGD Bandung. Tulisan diadaptasi dari Wikipedia.

Pendidikan Tinggi Pusat Penguatan SDM Unggul

Oleh:

Wahyudin Darmalaksana

 

Pendidikan tinggi mengalami persaingan dalam hal pengelolaan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, khususnya lulusan. SDM meliputi mahasiswa, fungsional, dan tenaga kependidikan. Seluruh SDM diperoleh melalui input rekrutmen. Pengelolaan dilakukan utamanya untuk peningkatan kapasitas SDM.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 menunjukkan bahwa tugas utama pendidikan tinggi adalah peningkatan SDM. Yaitu, SDM ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah mengarahkan kebijakan strategis untuk pendidikan tinggi, yaitu kualitas, relevansi, dan daya saing. Baru-baru ini visi Indonesia (2019-2024) didengungkan, yakni SDM Unggul, Indonesia Maju. Secara khusus, pendidikan tinggi ditekan untuk menyiapkan SDM unggul untuk persaingan global.

Di atas itu menegaskan pendidikan tinggi harus menetapkan tujuan bersama organisasi internal. Tujuan bersama inilah yang harus diusung bersama dan dicapai secara bersama pula. Harus dihitung pula berbagai tantangan eksternal pendidikan tinggi. Yaitu, persaingan lokal, nasional, regional, dan global.

Pendidikan tinggi di hampir seluruh negara memiliki problem serius. Antara lain yang paling fenomenal ialah problem pengaturan, relevansi kurikulum dengan konteks kebutuhan, keterbatasan SDM profesional, kondisi keuangan, dan pengelolaannya.

Pendidikan tinggi membutuhkan pengaturan yang kuat mencakup kehendak untuk berkembang secara leluasa. Kurikulum selalu membutuhkan peninjauan ulang seiring dengan perubahan konteks situasi yang cepat. Kebutuhan akan SDM profesional yang makin tinggi dengan timbulnya era revolusi 4.0 yang disruptif. Sejauh ini, sumber keuangan perguruan tinggi diperoleh dari biaya siswa, anggaran publik, dan sponsor. Realitanya, pendidikan tinggi di hampir setiap negara menghadapi tunggakan 40% biaya siswa, anggaran publik yang menurun karena situasi politik negara, dan sponsor yang belum tentu dapat diandalkan. Mengorganisasikan seluruhnya menjadi tugas berat para manager pendidikan tinggi.

Karena itu, peran manager pendidikan tinggi menjadi sentral. Mereka akan mengusung visi yang terukur sejalan dengan visi pusat. Mengawal langkah-langkah misi secara terstruktur untuk memastikan visi terwujud. Menjalankan pengembangan strategis. Melaksanakan kontrol, pengendalian, dan evaluasi kegiatan. Daripada itu, nilai eksplisit yang disepakati bersama akan dijunjung sebagai bingkai seluruh pelaksanaan tata kelola. Tak heran bila baru-baru ini timbul ide rektor asing untuk memastikan pengelolaan pendidikan tinggi yang baik.

Organisasi pendidikan tinggi diibaratkan sebuah kendaraan dengan tujuannya yang telah pasti. Assesor berperan sebagai supir yang melakukan assesment apakah kendaraan tersebut melaju ke arah tujuan, apakah orang-orang di dalam organisasi menjalankan tugasnya untuk menopang tujuan, dan apakah terdapat peningkatan SDM untuk memastikan organisasi pendidikan tinggi melakukan daya saing. Dalam hal ini, parameter diterapkan untuk memastikan pendidikan tinggi melaju cepat sampai pada tujuan.

Inti bisnis (core of business) pendidikan tinggi adalah jasa layanan pendidikan. Penjaminan mutu berperan untuk memastikan kualitas layanan yang diukur dengan indikator hasil akreditasi. Selebihnya, ialah penjaminan keunggulan dan kekhasan yang dapat dibentangkan melalu program studi dengan pertimbangan kurikulum, pengajaran, penelitian, dan partisipasi masyarakat.

Kualitas layanan akan meningkatkan performa bisnis pendidikan tinggi. Kualitas layanan berimplikasi terhadap peningkatan animo peminat, penguatan perolehan anggaran publik, dan pengembangan dukungan sponsor. Fokus layanan sendiri adalah peningkatan kapasitas SDM. Dalam hal ini, pendidikan tinggi melalui pelayanan dituntut menyiapkan SDM lulusan yang unggul dan berdaya saing. Layanan penyiapan SDM tersebut dibutuhkan SDM yang handal pula. Dengan demikian, penguatan SDM tak bisa dihindarkan untuk mahasiswa, fungsional, dan tenaga kependidikan serta seluruh stakeholders yang terlibat di dunia pendidikan tinggi.

Tegaslah pendidikan tinggi sangat membutuhkan strategi, proses dan SDM. Fokus utama bisnis pendidikan tinggi adalah penguatan SDM. Dengan begitu, pendidikan tinggi akan menjadi pusat SDM unggul. Jika sudah begitu maka akan besar pula dukungan terhadap pendidikan tinggi.

 

Penulis adalah Pemerhati Manajemen Strategis Pendididikan Tinggi

UIN SGD Bandung Peringkat 5 Penilaian SMS

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung meraih peringkat 5 (lima) penilaian Sistem Manajemen Strategis (SMS) pada Tahun 2019.

 “Performa UIN SGD peringkat 5 SMS menjadi anugerah untuk seluruh sivitas”, ungkap Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., Rektor UIN SGD Bandung di ruang kerjanya Jl. AH. Nasution No. 105 Bandung, Selasa 06/08/2019.

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI.) menerbitkan surat nomor B-1879.3/Dj.I/HM.01/06/2019 tentang pengumuman hasil pengisian dashboard e-SMS PTKIN se-Indonesia tanggal 24 Juni 2019. Surat ini mengumumkan UIN SGD Bandung sebagai peraih peringkat 5 (lima) penilaian SMS pada Tahun 2019.

Sebelumnya, Dirjen Pendis Kemenag RI. menyiapkan penilaian SMS dalam program daya saing Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dilaksanakan mulai tanggal 06 Februari 2019 sampai dengan 30 April 2019.

SMS merupakan indikator penilaian Kerangka Pengembangan PTKIN yang dirancang oleh Ditjen Pendis Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kemenag RI. SMS memetakan grand design pengembangan PTKIN pada 3 (tiga) tahapan, yaitu: Satuan Kerja (Satker) Biasa dengan sasaran Good University Governance; Satker Badan Layanan Umum (BLU) dengan sasaran Teaching University; dan Satker Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dengan sasaran Research University.

Tahapan pengembangan PTKIN yang diharapkan tercapai berdasarkan kerangka SMS adalah: Pertama, Good University Governance (GUG); Kedua, University’s Performance Improvement (UPI); Ketiga, Competitive Advantages University( CAU); dan Keempat, Global Recognition University (GRU).

Sementara itu, Milestone Development of Higher Education atau tonggak pengembangan pendidikan tinggi yang ditetapkan di lingkungan PTKIN Diktis Pendis Kemenag RI. ialah: Pertama, tahap Strengthening Institutional Capacity and Governance (2015-2019); Kedua, tahap National Comparative Advantages (2020-2024); Ketiga, tahap Regional Competitive Advantages (2025-2029); dan Keempat, tahap World Center for Islamic Higher Education (2030-2034).

Parameter indikator SMS telah menetapkan kriteria dan skor. Pertama, kriteria dan skor GUG: facilities, resources and supporting staff skor 25%; teaching skor 20%; leadership, management and governance skor 40%; dan research, publication, community services and cooperation skor 15%.

Kedua, kriteria dan skor UPI: improvement of facilities, resources and supporting staff skor 12,5%; improvement of teaching skor 45%; socioeconomic impacts; 2,5%; excellence in leadership, management and governance skor 20%; dan improvement of research, publication, community services and cooperation skor 20%.

Ketiga, kriteria dan skor CAU: copetitive Socioeconomic impacts skor 20%; quality of teaching skor 35%; dan quality of research, publication, community services and cooperation skor 45%.

Terakhir keempat, kriteria dan skor GRU: international outlook in socioeconomic impacts skor 45%; dan international outlook in research, publication, community services and cooperation skor 35%.

UIN SGD berbasis pengisian e-SMS memperoleh nilai GUG 1.281,40, UPI 535,81, CAU 311,69, dan GRU 236,22. Total nilai 2.365,11 sebagai kategori Baik.

Menurut grand design pengembangan PTKIN, UIN SGD Bandung merupakan satker Pengelola Keuangan BLU (PK BLU). Dengan posisi satker PK BLU tersebut UIN SGD berdasarkan grand design pengembangan PTKIN memiliki fokus pengembangan pada Teaching University. Fokus ini menjadi asset untuk fokus pengembangan pada sasaran Research University melalui kualifikasi satker PTN-BH.

UIN SGD berdasarkan borang Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Tahun 2015 memiliki beberapa tahapan pencapaian, yakni: Pertama, tahap Institutionalitation (2004-2009); Kedua, tahap Strenghtening Institutions (2010-2014); Ketiga, tahap Developing Institutions (2015-2019); Keempat, tahap Take off Stage Institutions (2020-2024); dan Kelima, tahap International Participation (2025-2029).

Sejalan dengan tonggak pengembangan PTKIN, Rencana Induk Pengembangan (RIP) UIN SGD menetapkan beberapa tahapan, yaitu: Pertama, tahap National Competitive Advantages 2019-2024; Kedua, tahap Southeast Asian Competitive Advantages 2024-2029; Ketiga, tahap Asian Competitive Advantages 2029-2034; Keempat, tahap Research University 2034-2039; dan Kelima, tahap World Class University 2039-2045.

“Hasil penilaian SMS peringkat 5 memantapkan UIN SGD pada tonggak National Competitive Advantages Tahun 2019-2024 sebagai persiapan menuju World Class University Tahun 2039-2045”, tegas Rektor UIN SGD Bandung.

Berikut ini hasil pengisian dashboard e-SMS UIN Se-Indonesia Tahun 2018:

  1. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang skor 2.836,61
  2. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta skor 2.705,52
  3. UIN Sunan Kalijaga skor 2.488,69
  4. UIN Walisongo Semarang skor 2.478,00
  5. UIN Sunan Gunung Djati Bandung skor
  6. UIN Imam Bonjol Padang skor 2.365,11
  7. UIN Alauddin Makassar skor 2.232,38
  8. UIN Sumatera Utara Medan skor 1.980,24
  9. UIN Ar-Raniry Banda Aceh skor 1.800,95
  10. UIN Raden Fatah Palembang skor 1.637,58
  11. UIN Mataram skor 1.613,08
  12. UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten skor 1.529,58
  13. UIN Raden Intan Bandar Lampung skor 1.343,08
  14. UIN Antasari Banjarmasin skor 1.233,23
  15. UIN Sultan Syarif Kasim Riau skor 563,12
  16. UIN Sunan Ampel Surabaya skor 432,97
  17. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi skor 298,44

 

Wahyudin Darmalaksana

Puslitpen LP2M UIN SGD Bandung

Kontak LP2M

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)
Gedung Lecture Hall Lantai I Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Jl. A.H. Nasution No. 105 - Cibiru - Bandung
Telp. 022-7800525
Fax.022-7803936
email: lp2m@uinsgd.ac.id

BCMath lib not installed. RSA encryption unavailable